Pages

Senin, 03 Juni 2013

Pelangiku, Hujanku!!

Seperti malam yang merindukan bulan ketika pagi menjelang dan seperti siang yang merindukan mentari ketika sore tiba. Hey! Seperti itu pula aku, aku Hujan. Hujan yang merindukan Pelanginya. Musim terus saja berlalu, menyisakan sedikit goresan luka. Oh mengapa? Pelangi tak kunjung menampakkan keelokannya?? Padahal Hujan senantiasa mencucurkan hawa segarnya, menebarkan bau khas tanah basah. Hujan sore ini. Hujan badai.... Tapi dimana Pelangi? Dimana? Tak sadarkah Pelangiku hingga dia tak kunjung menampakkan harmoninya?

Sudah hampir 4 bulan, cukup lama bukan? Seperti sudah tak memiliki memori masa dulu, nampaknya semua sia sia adanya.. Padahal, hari ini begitu bermakna, hari ini? Iya, benar sekali, hari pertama dimana Pelangi dan Hujan berada pada satu kondisi, bersama untuk pertama kalinya. Hari tepat dimana sebuah asa muncul menelusup dinding, ruang dan rongga yang namanya hati. Hujan pun memiliki hati bukan? Tentu saja, mana mungkin dia tidak. Jelas jelas setiap waktu memberi tanpa pernah menuntut balas. Bagaimana dengan Pelangi? Adakah Pelangi ingat hari ini? Mungkin iya namun kurasa tidak. Tentu, Pelangi sibuk, sibuk membelai para Bidadari di Nirwana sana. Tunggu, Bidadari? Benarkah Bidadari itu ada? Ataukah itu hanyalah fantasi Pelangi saja? Kurasa, aku tidak bisa merasakannya...

Hey!! Sudah lama sekali ya ternyata, menurutku begitu. Bagaimana menurutmu Pelangi? Ah, kamu tidak menjawab. Yah, tentu saja tidak. Bahkan mendengar ocehanku ini saja juga tidak.

Hujan sore ini. Hujan badai. Tidakkah kamu mendengar jerit piluku wahai Pelangi? Bahkan ranting dan dedaunan saja begitu takut ketika badaiku menghempas mereka, namun kamu mendengar saja tidak?? Oh.. Apa yang salah Pelangiku? Apa?

Tidak ada yang salah.. Semua baik, semua indah. Mungkin Hujanku belum mampu menggerakkan langkahmu untuk menghampiriku lagi. Aku tahu. Kurasa Bidadari itu begitu mengungkungmu bukan?? Setidaknya, jika kamu memang berada di Nirwana, turunlah ke Bumi bersamaku, sebentar saja. Akan kutunjukkan padamu, Pelangiku, Bumi jauh lebih indah dibanding Nirwana beserta Bidadarimu itu. Tapi? Aku tidak bisa, aku tak memaksamu Pelangiku. Aku hanya mampu menunggu hari hari selanjutnya. Ketika tiba masaku untuk turun ke Bumi dan memberi berkat, iya masa yang indah bagiku. Namun, aku masih berharap kamu, Pelangiku, mengiringi Hujanku... Karena yang aku tahu, waktu itu indah, sama indahnya dengan Pelangi Sehabis Hujan. Begitu padu bukan? Ya, tentu saja, padu seperti Aku dan Kamu....

Sebuah narasi untuk yang pertama namun mungkin bukan yang terakhir.....

Rabu, 05 Desember 2012

Catatan kecil diawal Desember untuk yang dirindukan..


Sebuah catatan kecil untuk Matahari, Bintang, dan Pelangi  yang mengusik kehidupanku...


Hey... Kamu, iya kamu, kamu yang duduk dipojok itu lho. Malah toleh – toleh, iya kamu, itu. kamu si Bulan. Hehm... Aku bingung harus memulai darimana. Aku adalah Bulan, beberapa tahun lalu, tepatnya dua tahun ini, aku hidup dalam selimut harapan yang entah kapan harapan itu akan menjadi kenyataan. Tapi itu tidak begitu penting. Aku, Bulan yang ketika malam tiba baru terlihat pancaran sinarnya. Haha.. Serendah diri itukah aku? Hingga ketika malam tiba saja aku mampu untuk memancarkan keindahanku.. Lalu, apa yang terjadi aku disiang hari? Hehm... Aku menjadi rapuh, menjadi silau karena sinar dari Sang Matahari.

Matahari, iya kamu Matahari. Kamu itu begitu mengusikku, kenapa setiap waktu selalu saja ingin tahu tentang kilauku, tentang mimpi – mimpi, cita – cita, dan harapanku? Aku ingin sekali berkata dihadapanmu, ‘Berhenti menggangguku!! Aku bahagia dengan kilauku saat ini, jangan sok menjadi super hero, aku tidak butuh!!!’ Tetapi seperti harapanku yang entah kapan akan menjadi nyata, sepertinya itu tidak mungkin, kita tidak pernah sejalan dan setujuan. Ketika siang, aku terlalu takut untuk memandang silaumu dan ketika malam kamu terlalu angkuh untuk mengagumi kilauku. Hah, mungkin sepanjang waktu kamu akan selalu mengusik kilauku. Merepotkan!!

Bintang, iya kamu Bintang. Kamu tahu apa kesalahan terbesarmu? Tepat sekali, kamu terlalu menyibukkan diri mengagumi keindahan kilauku dan melupakan cara untuk menjadi sejalan dan setujuan denganku. Kamu tidak ada bedanya dengan Matahari. Kamu itu begitu dekat denganku, setiap dan sepanjang malam kita lalui bersama, tapi apa? Tidak pernah sedetik pun kamu mau untuk mengatakan sesuatu tentangku. Aku hanya ingin keberanian darimu, mengatakan bahwa kilauku benar – benar memukaumu, tapi bukan dibelakangku melainkan dihadapanku. Tidakkah kamu tahu, aku menunggu saat itu? Tapi, tidak ada kejelasan darimu. Hehm.... Menjengkelkan!!

Pelangi, iya kamu Pelangi. Kamu itu seperti gunung es bagiku. Begitu membuatku berada dalam situasi yang amat dingin, namun mencair ketika pertahanan benteng goyah. Kehadiranmu yang muncul tiba – tiba selaras dengan kepergianmu yang tiba – tiba pula. Aku terlalu bingung memahami dirimu Pelangi. Mungkin didalam kilauku hanya ada keindahan warna yang tidak lelah engkau pancarkan, namun aku takut jika suatu saat aku tidak dapat melihat lagi warna – warna itu dengan hatiku. Ketahuilah, aku tidak selamanya bisa berlayar tanpa arah dan tujuan seperti ini. Aku butuh kepastian darimu. Engkau tahu, kita berada dalam dimensi yang amat sangat berbeda, bukan disiang hari, bukan pula dimalam hari perjumpaan itu. Kamu pun hanya nampak dikejauhan, yang tak dapat aku lukiskan betapa pun jauh jaraknya.

Matahari, Bintang dan Pelangi..

Aku terlalu lelah berada diantara lingkaran bersama kalian. Sampai kapan ini harus aku alami? Tidak bolehkah aku bahagia bersama yang aku nanti. Atau inilah jalan yang harus aku tempuh, mungkin inilah jalanku untuk memancarkan kilauku??? Inikah jalanku untuk mencari apa yang belum aku dapat, dan menemukan apa yang telah aku cari?

Siapakah yang akan menuntunku dimasa nanti? Engkaukah Matahari? Engkaukah Bintang? Atau engkaukah Pelangi? Aku tidak tahu, kalian juga tidak tahu, hanya yang tidak terlihat yang tahu.

Ini hanya perkara waktu, kalian tahu waktu??? Perputaran roda. Hehm....

Jangan sesalkan ketika suatu waktu nanti, aku memancarkan kilau itu bersama Meteor. Kalian tahu Meteor? Sesuatu yang dahsyat... Sesuatu yang tidak terduga namun sangat mengagumkan, mungkin hampir sama denganmu Pelangi. Tapi tidak, kalian berbeda. Meteor tidak akan meninggalkan Bulannya dalam kebimbangan, Meteor akan menuntun Bulan bersama – sama untuk memancarkan kilaunya. Tidak sepertimu Pelangi. Engkau terlalu sibuk menghias hidupmu dengan warna – warni tanpa pernah melihat dan memahami apa yang aku mau.

Inilah hidup. Inilah hukum alam. Inilah proses, mungkin bertemu dan mengenal Matahari, Bintang, dan Pelangi adalah sebuah proses, lalu jika aku bertemu Meteor, itu sebuah proses ataukah sebuah hasil akhir???? Hehm.... Tidak ada yang tahu, tidak juga aku, tidak juga kalian, hanya yang tidak terlihat yang tahu....


Penuh kerinduan untukmu......

Jumat, 30 November 2012

..Di Penghujung Bulan November..

Ini, November 2012.. Tepatnya 30 November. Ini adalah malam kesekian ribu kali setelah kita terpisah dalam nuansa yang berbeda, dua tahun yang lalu ketika tragedi klasik membumihanguskan mimpi - mimpi dan harapanku... Meskipun telah lama berlalu, tetapi untuk mengumpulkan kembali hati yang remuk redam itu ternyata cukup sulit. Aku bahkan kewalahan ketika harus menahan rindu, yang sebenarnya tidak wajar ini. Kadang, semua terasa berbeda ketika kita sama - sama mampu melepas ego kita, tembok yang menghalangi mata kita untuk sama - sama melihat kekurangan dan keletihan jiwa kita. Namun, yang terjadi sering berbeda. Ketika kita sangat mengagungkan ego kita, saat itulah kita sama - sama menyakiti dan mengkhianati rasa kita.

Selamat malam Pelangiku... :)


Seringkali, aku melihat kelemahan kita menjadi kelebihan kita... Kurang komunikasi, kurang pengertian, kurang peka, kurang tanggung jawab, kurang ajar.. :) Lalu, semua menjadi lebih ketika kita sama - sama menambah kekurangan itu. Menambah ketidakwajaran itu sehingga benar - benar menjadi limit. 

Pelangiku...
Ini sudah terlalu larut, bukan waktu sesaat dan bukan waktu yang tanpa arti. Sampai kapan? Aku tidak tahu, dan yang aku tahu kamu tidak mau tahu.. Mengapa? Egois? Naif? Kenapa? Jaim? 

Pelangiku..
Seandainya kamu mau tahu, sedikit saja untuk mau tahu. Mungkin semua tidak akan menjadi begitu rumit. Kenyataannya kita sama - sama tidak mau mengalah.. 

Pelangiku...

Kejujuranmu yang ingin aku tahu, dan apa kamu juga ingin tahu kejujuranku? Atau? Posisimu terlalu nyaman sehingga kamu tidak peduli dan tidak mau tahu lagi tentang ketidakwajaran ini?

Pelangiku..
Mungkin aku tidak tahu, tapi aku sedikit tahu, aku meyakini apa yang ada dipikiranku, dan aku meyakini kita mampu melewati ketidakwajaran ini. Aku yakin, kita mampu melewati limit ini dan menjadikan mimpi kita dimasa lalu menjadi sebuah keindahan, seperti kamu pelangiku..

Pelangiku..
Semoga ketika aku terbangun esok hari, aku mendapati sebuah pengharapan indah itu...
Yang selalu merindukanmu..
Pelangiku...