Pages

Rabu, 05 Desember 2012

Catatan kecil diawal Desember untuk yang dirindukan..


Sebuah catatan kecil untuk Matahari, Bintang, dan Pelangi  yang mengusik kehidupanku...


Hey... Kamu, iya kamu, kamu yang duduk dipojok itu lho. Malah toleh – toleh, iya kamu, itu. kamu si Bulan. Hehm... Aku bingung harus memulai darimana. Aku adalah Bulan, beberapa tahun lalu, tepatnya dua tahun ini, aku hidup dalam selimut harapan yang entah kapan harapan itu akan menjadi kenyataan. Tapi itu tidak begitu penting. Aku, Bulan yang ketika malam tiba baru terlihat pancaran sinarnya. Haha.. Serendah diri itukah aku? Hingga ketika malam tiba saja aku mampu untuk memancarkan keindahanku.. Lalu, apa yang terjadi aku disiang hari? Hehm... Aku menjadi rapuh, menjadi silau karena sinar dari Sang Matahari.

Matahari, iya kamu Matahari. Kamu itu begitu mengusikku, kenapa setiap waktu selalu saja ingin tahu tentang kilauku, tentang mimpi – mimpi, cita – cita, dan harapanku? Aku ingin sekali berkata dihadapanmu, ‘Berhenti menggangguku!! Aku bahagia dengan kilauku saat ini, jangan sok menjadi super hero, aku tidak butuh!!!’ Tetapi seperti harapanku yang entah kapan akan menjadi nyata, sepertinya itu tidak mungkin, kita tidak pernah sejalan dan setujuan. Ketika siang, aku terlalu takut untuk memandang silaumu dan ketika malam kamu terlalu angkuh untuk mengagumi kilauku. Hah, mungkin sepanjang waktu kamu akan selalu mengusik kilauku. Merepotkan!!

Bintang, iya kamu Bintang. Kamu tahu apa kesalahan terbesarmu? Tepat sekali, kamu terlalu menyibukkan diri mengagumi keindahan kilauku dan melupakan cara untuk menjadi sejalan dan setujuan denganku. Kamu tidak ada bedanya dengan Matahari. Kamu itu begitu dekat denganku, setiap dan sepanjang malam kita lalui bersama, tapi apa? Tidak pernah sedetik pun kamu mau untuk mengatakan sesuatu tentangku. Aku hanya ingin keberanian darimu, mengatakan bahwa kilauku benar – benar memukaumu, tapi bukan dibelakangku melainkan dihadapanku. Tidakkah kamu tahu, aku menunggu saat itu? Tapi, tidak ada kejelasan darimu. Hehm.... Menjengkelkan!!

Pelangi, iya kamu Pelangi. Kamu itu seperti gunung es bagiku. Begitu membuatku berada dalam situasi yang amat dingin, namun mencair ketika pertahanan benteng goyah. Kehadiranmu yang muncul tiba – tiba selaras dengan kepergianmu yang tiba – tiba pula. Aku terlalu bingung memahami dirimu Pelangi. Mungkin didalam kilauku hanya ada keindahan warna yang tidak lelah engkau pancarkan, namun aku takut jika suatu saat aku tidak dapat melihat lagi warna – warna itu dengan hatiku. Ketahuilah, aku tidak selamanya bisa berlayar tanpa arah dan tujuan seperti ini. Aku butuh kepastian darimu. Engkau tahu, kita berada dalam dimensi yang amat sangat berbeda, bukan disiang hari, bukan pula dimalam hari perjumpaan itu. Kamu pun hanya nampak dikejauhan, yang tak dapat aku lukiskan betapa pun jauh jaraknya.

Matahari, Bintang dan Pelangi..

Aku terlalu lelah berada diantara lingkaran bersama kalian. Sampai kapan ini harus aku alami? Tidak bolehkah aku bahagia bersama yang aku nanti. Atau inilah jalan yang harus aku tempuh, mungkin inilah jalanku untuk memancarkan kilauku??? Inikah jalanku untuk mencari apa yang belum aku dapat, dan menemukan apa yang telah aku cari?

Siapakah yang akan menuntunku dimasa nanti? Engkaukah Matahari? Engkaukah Bintang? Atau engkaukah Pelangi? Aku tidak tahu, kalian juga tidak tahu, hanya yang tidak terlihat yang tahu.

Ini hanya perkara waktu, kalian tahu waktu??? Perputaran roda. Hehm....

Jangan sesalkan ketika suatu waktu nanti, aku memancarkan kilau itu bersama Meteor. Kalian tahu Meteor? Sesuatu yang dahsyat... Sesuatu yang tidak terduga namun sangat mengagumkan, mungkin hampir sama denganmu Pelangi. Tapi tidak, kalian berbeda. Meteor tidak akan meninggalkan Bulannya dalam kebimbangan, Meteor akan menuntun Bulan bersama – sama untuk memancarkan kilaunya. Tidak sepertimu Pelangi. Engkau terlalu sibuk menghias hidupmu dengan warna – warni tanpa pernah melihat dan memahami apa yang aku mau.

Inilah hidup. Inilah hukum alam. Inilah proses, mungkin bertemu dan mengenal Matahari, Bintang, dan Pelangi adalah sebuah proses, lalu jika aku bertemu Meteor, itu sebuah proses ataukah sebuah hasil akhir???? Hehm.... Tidak ada yang tahu, tidak juga aku, tidak juga kalian, hanya yang tidak terlihat yang tahu....


Penuh kerinduan untukmu......

Jumat, 30 November 2012

..Di Penghujung Bulan November..

Ini, November 2012.. Tepatnya 30 November. Ini adalah malam kesekian ribu kali setelah kita terpisah dalam nuansa yang berbeda, dua tahun yang lalu ketika tragedi klasik membumihanguskan mimpi - mimpi dan harapanku... Meskipun telah lama berlalu, tetapi untuk mengumpulkan kembali hati yang remuk redam itu ternyata cukup sulit. Aku bahkan kewalahan ketika harus menahan rindu, yang sebenarnya tidak wajar ini. Kadang, semua terasa berbeda ketika kita sama - sama mampu melepas ego kita, tembok yang menghalangi mata kita untuk sama - sama melihat kekurangan dan keletihan jiwa kita. Namun, yang terjadi sering berbeda. Ketika kita sangat mengagungkan ego kita, saat itulah kita sama - sama menyakiti dan mengkhianati rasa kita.

Selamat malam Pelangiku... :)


Seringkali, aku melihat kelemahan kita menjadi kelebihan kita... Kurang komunikasi, kurang pengertian, kurang peka, kurang tanggung jawab, kurang ajar.. :) Lalu, semua menjadi lebih ketika kita sama - sama menambah kekurangan itu. Menambah ketidakwajaran itu sehingga benar - benar menjadi limit. 

Pelangiku...
Ini sudah terlalu larut, bukan waktu sesaat dan bukan waktu yang tanpa arti. Sampai kapan? Aku tidak tahu, dan yang aku tahu kamu tidak mau tahu.. Mengapa? Egois? Naif? Kenapa? Jaim? 

Pelangiku..
Seandainya kamu mau tahu, sedikit saja untuk mau tahu. Mungkin semua tidak akan menjadi begitu rumit. Kenyataannya kita sama - sama tidak mau mengalah.. 

Pelangiku...

Kejujuranmu yang ingin aku tahu, dan apa kamu juga ingin tahu kejujuranku? Atau? Posisimu terlalu nyaman sehingga kamu tidak peduli dan tidak mau tahu lagi tentang ketidakwajaran ini?

Pelangiku..
Mungkin aku tidak tahu, tapi aku sedikit tahu, aku meyakini apa yang ada dipikiranku, dan aku meyakini kita mampu melewati ketidakwajaran ini. Aku yakin, kita mampu melewati limit ini dan menjadikan mimpi kita dimasa lalu menjadi sebuah keindahan, seperti kamu pelangiku..

Pelangiku..
Semoga ketika aku terbangun esok hari, aku mendapati sebuah pengharapan indah itu...
Yang selalu merindukanmu..
Pelangiku...

Senin, 24 September 2012

Kenanglah, mantan kekasihku

Kenanglah aku..
Kenanglah aku dan semua tentang aku..
Baik burukku, indah ataupun kelabu..
Kenanglah aku..

Aku tidak memintamu untuk mengingat semua tentang aku..
Aku hanya berharap kamu mengenangku..

Jauh sudah aku melangkah..
Setiap tapak dan jejak yang terlewati,
tidak ada yang menghapus hadirmu dalam ruang hati ini..
Setiap hal kecil,
membawa aku dalam adegan masa lalu..

Aku telah cukup lelah menanti..
Rasa rindu ini pun kian lama kian memudar..
Tapi, mengenangmu adalah salah satu hal terindah yang aku miliki...

Untukmu,
'Pelangiku'

Sabtu, 22 September 2012

Romansa Biru


Ku titipkan sebentuk Hati kecilku kepada seseorang yang jauh disana. Aku berharap dia  mampu menjaga Hati itu. Menjadi pelita ketika Hati itu merasa gelap, memeluk Hati itu ketika ia kedinginan, menjadi penunjuk jalan ketika Hati itu tersesat, menjadi penasihat ketika Hati itu gelisah, dan menjadi sandaran ketika Hati itu lelah. Sebentuk Hati kecil yang rapuh, yang seringkali merasa tidak berdaya ketika harus dihadapkan pada sebuah pilihan. Aku tak cukup kuat untuk menjaga Hati itu sendirian, namun seseorang itu pun juga tak mampu bertahan untuk bersamaku menjaga Hati itu. Sebuah tragedi klasik yang malah justru menghancurkan Hati itu menjadi berkeping – keping. Sebuah kenyataan yang menyakitkan, kejujuran yang menyesakkan, menggoyahkan kepercayaan dan menodai arti sebuah kesetiaan.       

  Kini Hati itu berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Hati itu merasa galau. Hati itu merasa merindu. Hati itu kesepian. Hati itu masih berharap. Berharap pada sesuatu yang tidak bisa direncana. Berharap pada seseorang yang telah meninggalkan Hati itu dan menjauh pergi. Seseorang yang sampai saat ini tidak mengerti dan tidak mau mengerti tentang Hati itu. Aku menyebut seseorang itu sebagai ‘Pelangi’. Pelangi itu tidak pernah terlihat ketika Hati itu sangat merindukan keindahannya. Pelangi itu hanya dapat dinikmati sesaat saja. Pelangi itu terlalu mustahil untuk dapat dimiliki kembali oleh Hati itu. Pelangiku, Pelangi yang terlalu jauh untukku sentuh.    

   Suatu kali, Hati itu berpikir untuk bicara tentang sebuah keadaan. Keadaan seperti benteng yang membuat Hati itu begitu takut untuk bicara. Benteng yang memberi jarak dan membuat Pelangi dan Hati itu terpisah sekian lama. Tetapi, ketika Hati itu ingin mulai bicara, Logika pun tak ingin kalah dan menyusup bak duri dalam daging yang turut membentengi Hati itu. “Apa maumu Hati kecil? Apakah kamu ingin mengubah keadaan ini menjadi seperti yang kamu inginkan? Jangan sembrono. Itu bukan kuasamu, melainkan kuasa – Nya yang bekerja. Dia yang jauh disana lebih tahu apa yang kamu butuhkan bukan apa yang kamu inginkan. Mulailah berpikir dewasa, jangan egois dan menuruti nafsumu. Dia rencanakan hidupmu jauh lebih indah dari apa yang kamu bayangkan. Dia tahu waktu yang tepat, Dia sudah berjanji, karena itu bersabarlah untuk menanti waktu itu!! Yakinlah, akan tiba saatnya.”      

   Hati itu hanya bisa terdiam ketika Logika berbicara. Hati itu menangis. Menangis karena begitu bodoh ingin mendahului kuasa – Nya. “Sabar...” hal yang dapat dilakukan oleh Hati itu.    

      Detik berlalu, menit berlalu, jam, hari, bulan dan tahun juga berlalu. Bahkan begitu cepat semua berlalu. Hati itu mulai kembali mengumpulkan kepingan – kepingan yang telah hancur. Hati itu kini telah bangkit. Hati itu telah cukup kuat. Hati itu pun masih terus mencoba bersabar. Hati itu mencoba meyakini kuasa yang dijanjikan. Semua tidak semudah apa yang diinginkan. Hati itu terus berproses, satu per satu keindahan lain pun datang menghampiri. Bulan, Bintang, dan bahkan Matahari yang mencoba mengusik keindahan Pelangi dalam Hati itu, tidak mampu menggoyahkan keyakinan Hati itu. Hati itu tetap bertahan. Tidak peduli dengan kilauan Bintang yang gemerlap, tidak peduli dengan cahaya Bulan yang penuh keteduhan, dan tidak juga peduli pada Matahari yang tiada lelah memberi.

         Hati itu tetap yakin pada sebuah janji. Janji yang mungkin telah terlupakan oleh Pelangi. Hati itu akan terus menunggu. Menunggu sampai Pelangi itu datang. Menjemput Hati itu bersama mimpi mereka. Pelangiku, mungkin Hati itu tidak pernah tahu kapan kuasa – Nya akan bekerja. Hati itu hanya ingin menyampaikan sebuah kalimat sederhana, “Pelangi berpengharapan yang kamu janjikan dulu, masihkah dapat aku nikmati keindahannya? Ataukah semua telah berubah, dan pengharapan itu tak lagi ada??”     

   Sore tadi, Hati itu kembali menangis. Tiba – tiba kesesakan menghimpit, nafasnya tersendat. Hati itu terlihat begitu kecewa, Hati itu kembali terluka. Hati itu merasa kehilangan, lagi. Pelangi itu tidak kunjung datang. Sore tadi adalah hujan yang ke – 999, hujan yang membuat Hati itu berharap dapat melihat  Pelangi yang dinantinya. Namun, Pelangi itu entah berada dimana. Hati itu tersudut, terpojok dalam dimensi ruang yang membawanya melamun ke tragedi klasik itu. Andaikan semua yang berlalu dapat aku kembalikan ke keadaan normal lagi, bukan yang seperti ini, terhalang tembok yang membentengi kita. Hati itu kembali tersadar, Hati itu tertawa. Sebuah situasi yang menjijikkan, yang membuat Hati itu tertawa dalam sebuah topeng yang penuh kepalsuan.       

Hati itu bangun dari lamunannya. Hati itu telah lelah, Hati itu mencoba melupakan harapannya, Pelangiku. Hati itu ingin mewujudkan mimpi mereka, meskipun kini Hati itu sendirian. Hati itu yakin, suatu saat jika Dia yang mempunyai kuasa mengatakan ‘iya’ maka semua  akan menjadi sempurna. Hati itu sadar bahwa untuk mencapai kesempurnaan itu tidaklah mudah. Hati itu juga tidak mampu membohongi aku. Ia  tidak pernah benar- benar melupakan sang Pelangi. Hati itu justru menyimpan harapan bersama sang Pelangiku dalam relung yang terdalam. Hati itu mungkin perlahan menghilang, Hati itu mungkin juga mulai menjauh. Tetapi, Pelangiku harus tahu bahwa Hati itu hanya tidak ingin melihat Pelangiku gagal, Hati itu ingin melihat Pelangi berbahagia meski dari kejauhan. Hati itu memberikan kebebasan yang Pelangi inginkan. Hati itu selalu berdoa yang terbaik untuk sang Pelangi, meski perih menyelimuti Hati itu, tapi Hati itu tetap mencoba bertahan.    

    Dalam pekatnya malam, Hati itu berjalan tertatih, menyusuri tiap jalan yang pernah Hati itu lewati bersama sang Pelangi. Seperti memutar kembali ingatan dimasa lalu, satu per satu adegan bak drama pertunjukan terlintas dibenaknya. Terduduk lemas disebuah kursi kayu dekat taman, Hati itu melihat setangkai mawar putih yang teronggok diantara sampah dedaunan. Kala itu musim kemarau, dedaunan seolah tak punya daya berguguran memenuhi seisi taman itu. Hati itu mengambil mawar putih itu dan memandang penuh tanya. Siapa yang membuangnya? Tidak ada harganya kah mawar ini hingga pemiliknya membuangnya begitu saja? Hati itu menyimpan mawar putih itu pada sebuah kotak kecil. Kotak itu berisi tentang harapan, cita – cita, dan mimpi Hati itu. Hati itu mulai merasa lelah dan terlelap bersama nikmatnya keindahan senja.        

   Tiba – tiba hembusan angin membangunkan Hati itu. Sebuah keyakinan baru kembali menohoknya. Hati itu ingin pasrah, untuk semua yang Hati itu alami. Biarlah semua tersimpan dengan manis dalam relungku, aku tak ingin mengusikmu lagi Pelangiku. Aku bahagia, aku bahagia.. sekali lagi aku bahagia. Aku tidak bohong, aku benar – benar bahagia. Aku yakin, tulang rusuk dan pemiliknya tidak akan pernah tertukar. Jika kamu memang tulang rusukku, Pelangiku, pasti saatnya akan tiba. Bersabarlah. Kini biarkan aku berlalu darimu, ucapkan ‘Selamat jalan untukku dan untukmu.’