Ini,
November 2012.. Tepatnya 30 November. Ini adalah malam kesekian ribu kali
setelah kita terpisah dalam nuansa yang berbeda, dua tahun yang lalu ketika
tragedi klasik membumihanguskan mimpi - mimpi dan harapanku... Meskipun telah
lama berlalu, tetapi untuk mengumpulkan kembali hati yang remuk redam itu
ternyata cukup sulit. Aku bahkan kewalahan ketika harus menahan rindu, yang
sebenarnya tidak wajar ini. Kadang, semua terasa berbeda ketika kita sama -
sama mampu melepas ego kita, tembok yang menghalangi mata kita untuk sama -
sama melihat kekurangan dan keletihan jiwa kita. Namun, yang terjadi sering
berbeda. Ketika kita sangat mengagungkan ego kita, saat itulah kita sama - sama
menyakiti dan mengkhianati rasa kita.
Selamat malam Pelangiku... :)
Seringkali, aku melihat kelemahan kita menjadi kelebihan kita... Kurang komunikasi, kurang pengertian, kurang peka, kurang tanggung jawab, kurang ajar.. :) Lalu, semua menjadi lebih ketika kita sama - sama menambah kekurangan itu. Menambah ketidakwajaran itu sehingga benar - benar menjadi limit.
Pelangiku...
Ini sudah terlalu larut, bukan waktu sesaat dan bukan
waktu yang tanpa arti. Sampai kapan? Aku tidak tahu, dan yang aku tahu kamu
tidak mau tahu.. Mengapa? Egois? Naif? Kenapa? Jaim?
Seandainya kamu mau tahu, sedikit saja untuk mau tahu.
Mungkin semua tidak akan menjadi begitu rumit. Kenyataannya kita sama - sama
tidak mau mengalah..
Pelangiku...
Kejujuranmu yang ingin aku tahu, dan apa kamu juga ingin tahu kejujuranku? Atau? Posisimu terlalu nyaman sehingga kamu tidak peduli dan tidak mau tahu lagi tentang ketidakwajaran ini?
Pelangiku..
Mungkin aku tidak tahu, tapi aku sedikit tahu, aku
meyakini apa yang ada dipikiranku, dan aku meyakini kita mampu melewati
ketidakwajaran ini. Aku yakin, kita mampu melewati limit ini dan menjadikan
mimpi kita dimasa lalu menjadi sebuah keindahan, seperti kamu pelangiku..
Pelangiku..
Semoga ketika aku terbangun esok hari, aku mendapati sebuah pengharapan indah
itu...
Yang selalu merindukanmu..
Pelangiku...
