Seperti
malam yang merindukan bulan ketika pagi menjelang dan seperti siang yang
merindukan mentari ketika sore tiba. Hey! Seperti itu pula aku, aku Hujan. Hujan
yang merindukan Pelanginya. Musim terus saja berlalu, menyisakan sedikit goresan
luka. Oh mengapa? Pelangi tak kunjung menampakkan keelokannya?? Padahal Hujan
senantiasa mencucurkan hawa segarnya, menebarkan bau khas tanah basah. Hujan
sore ini. Hujan badai.... Tapi dimana Pelangi? Dimana? Tak sadarkah Pelangiku
hingga dia tak kunjung menampakkan harmoninya?
Sudah
hampir 4 bulan, cukup lama bukan? Seperti sudah tak memiliki memori masa dulu,
nampaknya semua sia sia adanya.. Padahal, hari ini begitu bermakna, hari ini? Iya,
benar sekali, hari pertama dimana Pelangi dan Hujan berada pada satu kondisi,
bersama untuk pertama kalinya. Hari tepat dimana sebuah asa muncul menelusup
dinding, ruang dan rongga yang namanya hati. Hujan pun memiliki hati bukan? Tentu
saja, mana mungkin dia tidak. Jelas jelas setiap waktu memberi tanpa pernah
menuntut balas. Bagaimana dengan Pelangi? Adakah Pelangi ingat hari ini? Mungkin
iya namun kurasa tidak. Tentu, Pelangi sibuk, sibuk membelai para Bidadari di
Nirwana sana. Tunggu, Bidadari? Benarkah Bidadari itu ada? Ataukah itu hanyalah
fantasi Pelangi saja? Kurasa, aku tidak bisa merasakannya...
Hey!!
Sudah lama sekali ya ternyata, menurutku begitu. Bagaimana menurutmu Pelangi? Ah,
kamu tidak menjawab. Yah, tentu saja tidak. Bahkan mendengar ocehanku ini saja
juga tidak.
Hujan
sore ini. Hujan badai. Tidakkah kamu mendengar jerit piluku wahai Pelangi? Bahkan
ranting dan dedaunan saja begitu takut ketika badaiku menghempas mereka, namun
kamu mendengar saja tidak?? Oh.. Apa yang salah Pelangiku? Apa?
Tidak
ada yang salah.. Semua baik, semua indah. Mungkin Hujanku belum mampu
menggerakkan langkahmu untuk menghampiriku lagi. Aku tahu. Kurasa Bidadari itu
begitu mengungkungmu bukan?? Setidaknya, jika kamu memang berada di Nirwana,
turunlah ke Bumi bersamaku, sebentar saja. Akan kutunjukkan padamu, Pelangiku,
Bumi jauh lebih indah dibanding Nirwana beserta Bidadarimu itu. Tapi? Aku tidak
bisa, aku tak memaksamu Pelangiku. Aku hanya mampu menunggu hari hari
selanjutnya. Ketika tiba masaku untuk turun ke Bumi dan memberi berkat, iya
masa yang indah bagiku. Namun, aku masih berharap kamu, Pelangiku, mengiringi Hujanku...
Karena yang aku tahu, waktu itu indah, sama indahnya dengan Pelangi Sehabis
Hujan. Begitu padu bukan? Ya, tentu saja, padu seperti Aku dan Kamu....
Sebuah narasi untuk yang pertama
namun mungkin bukan yang terakhir.....