Ku titipkan
sebentuk Hati kecilku kepada seseorang yang jauh disana. Aku berharap dia mampu menjaga Hati itu. Menjadi pelita ketika
Hati itu merasa gelap, memeluk Hati itu ketika ia kedinginan, menjadi penunjuk
jalan ketika Hati itu tersesat, menjadi penasihat ketika Hati itu gelisah, dan
menjadi sandaran ketika Hati itu lelah. Sebentuk Hati kecil yang rapuh, yang
seringkali merasa tidak berdaya ketika harus dihadapkan pada sebuah pilihan.
Aku tak cukup kuat untuk menjaga Hati itu sendirian, namun seseorang itu pun
juga tak mampu bertahan untuk bersamaku menjaga Hati itu. Sebuah tragedi klasik
yang malah justru menghancurkan Hati itu menjadi berkeping – keping. Sebuah
kenyataan yang menyakitkan, kejujuran yang menyesakkan, menggoyahkan kepercayaan
dan menodai arti sebuah kesetiaan.
Kini
Hati itu berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Hati itu merasa galau.
Hati itu merasa merindu. Hati itu kesepian. Hati itu masih berharap. Berharap
pada sesuatu yang tidak bisa direncana. Berharap pada seseorang yang telah
meninggalkan Hati itu dan menjauh pergi. Seseorang yang sampai saat ini tidak
mengerti dan tidak mau mengerti tentang Hati itu. Aku menyebut seseorang itu
sebagai ‘Pelangi’. Pelangi itu tidak pernah terlihat ketika Hati itu sangat
merindukan keindahannya. Pelangi itu hanya dapat dinikmati sesaat saja. Pelangi
itu terlalu mustahil untuk dapat dimiliki kembali oleh Hati itu. Pelangiku,
Pelangi yang terlalu jauh untukku sentuh.
Suatu
kali, Hati itu berpikir untuk bicara tentang sebuah keadaan. Keadaan seperti
benteng yang membuat Hati itu begitu takut untuk bicara. Benteng yang memberi
jarak dan membuat Pelangi dan Hati itu terpisah sekian lama. Tetapi, ketika
Hati itu ingin mulai bicara, Logika pun tak ingin kalah dan menyusup bak duri
dalam daging yang turut membentengi Hati itu. “Apa maumu Hati kecil? Apakah
kamu ingin mengubah keadaan ini menjadi seperti yang kamu inginkan? Jangan
sembrono. Itu bukan kuasamu, melainkan kuasa – Nya yang bekerja. Dia yang jauh
disana lebih tahu apa yang kamu butuhkan bukan apa yang kamu inginkan. Mulailah
berpikir dewasa, jangan egois dan menuruti nafsumu. Dia rencanakan hidupmu jauh
lebih indah dari apa yang kamu bayangkan. Dia tahu waktu yang tepat, Dia sudah
berjanji, karena itu bersabarlah untuk menanti waktu itu!! Yakinlah, akan tiba
saatnya.”
Hati
itu hanya bisa terdiam ketika Logika berbicara. Hati itu menangis. Menangis
karena begitu bodoh ingin mendahului kuasa – Nya. “Sabar...” hal yang dapat
dilakukan oleh Hati itu.
Detik
berlalu, menit berlalu, jam, hari, bulan dan tahun juga berlalu. Bahkan begitu
cepat semua berlalu. Hati itu mulai kembali mengumpulkan kepingan – kepingan
yang telah hancur. Hati itu kini telah bangkit. Hati itu telah cukup kuat. Hati
itu pun masih terus mencoba bersabar. Hati itu mencoba meyakini kuasa yang
dijanjikan. Semua tidak semudah apa yang diinginkan. Hati itu terus berproses,
satu per satu keindahan lain pun datang menghampiri. Bulan, Bintang, dan bahkan
Matahari yang mencoba mengusik keindahan Pelangi dalam Hati itu, tidak mampu
menggoyahkan keyakinan Hati itu. Hati itu tetap bertahan. Tidak peduli dengan
kilauan Bintang yang gemerlap, tidak peduli dengan cahaya Bulan yang penuh
keteduhan, dan tidak juga peduli pada Matahari yang tiada lelah memberi.
Hati
itu tetap yakin pada sebuah janji. Janji yang mungkin telah terlupakan oleh
Pelangi. Hati itu akan terus menunggu. Menunggu sampai Pelangi itu datang.
Menjemput Hati itu bersama mimpi mereka. Pelangiku, mungkin Hati itu tidak
pernah tahu kapan kuasa – Nya akan bekerja. Hati itu hanya ingin menyampaikan
sebuah kalimat sederhana, “Pelangi berpengharapan yang kamu janjikan dulu,
masihkah dapat aku nikmati keindahannya? Ataukah semua telah berubah, dan
pengharapan itu tak lagi ada??”
Sore tadi,
Hati itu kembali menangis. Tiba – tiba kesesakan menghimpit, nafasnya
tersendat. Hati itu terlihat begitu kecewa, Hati itu kembali terluka. Hati itu
merasa kehilangan, lagi. Pelangi itu tidak kunjung datang. Sore tadi adalah
hujan yang ke – 999, hujan yang membuat Hati itu berharap dapat melihat Pelangi yang dinantinya. Namun, Pelangi itu
entah berada dimana. Hati itu tersudut, terpojok dalam dimensi ruang yang
membawanya melamun ke tragedi klasik itu. Andaikan
semua yang berlalu dapat aku kembalikan ke keadaan normal lagi, bukan yang
seperti ini, terhalang tembok yang membentengi kita. Hati itu kembali
tersadar, Hati itu tertawa. Sebuah situasi yang menjijikkan, yang membuat Hati
itu tertawa dalam sebuah topeng yang penuh kepalsuan.
Hati
itu bangun dari lamunannya. Hati itu telah lelah, Hati itu mencoba melupakan
harapannya, Pelangiku. Hati itu ingin mewujudkan mimpi mereka, meskipun kini
Hati itu sendirian. Hati itu yakin, suatu saat jika Dia yang mempunyai kuasa
mengatakan ‘iya’ maka semua akan menjadi
sempurna. Hati itu sadar bahwa untuk mencapai kesempurnaan itu tidaklah mudah.
Hati itu juga tidak mampu membohongi aku. Ia
tidak pernah benar- benar melupakan sang Pelangi. Hati itu justru
menyimpan harapan bersama sang Pelangiku dalam relung yang terdalam. Hati itu
mungkin perlahan menghilang, Hati itu mungkin juga mulai menjauh. Tetapi, Pelangiku
harus tahu bahwa Hati itu hanya tidak ingin melihat Pelangiku gagal, Hati itu
ingin melihat Pelangi berbahagia meski dari kejauhan. Hati itu memberikan
kebebasan yang Pelangi inginkan. Hati itu selalu berdoa yang terbaik untuk sang
Pelangi, meski perih menyelimuti Hati itu, tapi Hati itu tetap mencoba
bertahan.
Dalam
pekatnya malam, Hati itu berjalan tertatih, menyusuri tiap jalan yang pernah
Hati itu lewati bersama sang Pelangi. Seperti memutar kembali ingatan dimasa
lalu, satu per satu adegan bak drama pertunjukan terlintas dibenaknya. Terduduk
lemas disebuah kursi kayu dekat taman, Hati itu melihat setangkai mawar putih
yang teronggok diantara sampah dedaunan. Kala itu musim kemarau, dedaunan
seolah tak punya daya berguguran memenuhi seisi taman itu. Hati itu mengambil
mawar putih itu dan memandang penuh tanya. Siapa
yang membuangnya? Tidak ada harganya kah mawar ini hingga pemiliknya
membuangnya begitu saja? Hati itu menyimpan mawar putih itu pada sebuah
kotak kecil. Kotak itu berisi tentang harapan, cita – cita, dan mimpi Hati itu.
Hati itu mulai merasa lelah dan terlelap bersama nikmatnya keindahan senja.
Tiba
– tiba hembusan angin membangunkan Hati itu. Sebuah keyakinan baru kembali
menohoknya. Hati itu ingin pasrah, untuk semua yang Hati itu alami. Biarlah semua tersimpan dengan manis dalam
relungku, aku tak ingin mengusikmu lagi Pelangiku. Aku bahagia, aku bahagia..
sekali lagi aku bahagia. Aku tidak bohong, aku benar – benar bahagia. Aku
yakin, tulang rusuk dan pemiliknya tidak akan pernah tertukar. Jika kamu memang
tulang rusukku, Pelangiku, pasti saatnya akan tiba. Bersabarlah. Kini biarkan
aku berlalu darimu, ucapkan ‘Selamat jalan untukku dan untukmu.’