Pages

Minggu, 16 November 2014

Kita Menyebut Ini Pengalaman

Kita adalah manusia-manusia kecil yang berangan dan bermimpi besar. Kita adalah individu yang pada masanya dulu berproses dan menjalani rutinitas bersama selama bertahun-tahun. Kita yang akhirnya mengakukan diri sebagai sahabat. Sahabat masa kecil.

Kita selalu bersama dalam segala situasi dan kondisi. Selalu. Tak pernah sekalipun berpisah, kecuali jika sedang dilanda perang. Saat itu kita akan saling buang muka dan saling diam ketika bertemu. Sejak dulu, sejak kita masih belajar, aku tahu bahwa untuk urusan yang satu itu kamu memang selalu lebih unggul. Selalu.

Beberapa kali menjadi mak comblangmu, beberapa kali mendapati kegilaanmu untuk urusan yang satu itu. Sementara aku? Aku hanya bisa menyunggingkan senyum ketika bertemu kakak kelas yang kusukai dijaman itu. Tersenyum dan tersenyum ketika memandang dirinya dari jauh. Argh...rasa geli ketika mengingat dulu. Nampaknya masa itu benar-benar membahagiakan. Sampai sekarang terbungkus rapi.

Hei, aku rindu sekali kembali ke masa itu. Barang perkara kecil kita bisa saling diam beberapa hari. Masih ingat ketika kita saling diam karena tugas sekolah itu? Yap...sebulan kita saling diam, saling buang muka, sampai akhirnya guru BK memanggil kita. Lucu...

Tak terasa sudah enam tahun kita terpisah oleh jarak. Jarak yang membuat kita harus meninggalkan gerbang sekolah itu dan membuat rencana untuk masa depan. Saat itu, tak ada kesedihan. Kita sama-sama berambisi untuk sukses. Sampai kita lupa bahwa ambisi itu menggerus idealisme dan persahabatan kita. Ketika akhirnya kamu menyatukan diri dengan orang yang kukenal, orang yang sempat dekat denganku, yang aku jelas tahu bahwa dia tak baik. Tapi toh hidup terus berjalan dan berproses, hingga akhirnya waktu mengungkap sendiri kebenarannya.

Bahagia adalah ketika aku bisa kembali bertegur sapa denganmu. Ketika kita bicara bukan untuk saling melebihkan namun saling melengkapi dan berbagi pengalaman. Untuk yang satu itu, terimakasih sudah mau membaginya untukku. Ini berharga. Sungguh.

"Jangan pernah mengira-ngira dalamnya perasaan seseorang, kalau memang mau mengubah maka ubahlah dulu dirimu sendiri."
Aku sontak gila. Mungkin ini saat aku belajar untuk ikhlas?? Atau ini saat aku untuk belajar memaafkan?

Aku tidak tahu akan bertahan seberapa lama, semakin jauh semakin jauh dan semakin jauh. Semakin lama semakin keras dan terasa semakin sulit. Pada akhirnya jika harus benar-benar pulang, maka mungkin saja akan ada pelita lain diujung penantian bukan?

Hanya bisa mengusahakan. Hanya bisa terus belajar. Aku hanya bisa melakukan itu. Jika Tuhan menggariskan untuk menyudahinya, maka akan kusudahi.

Terimakasih sahabatku,
Aku tak akan pernah bisa menyamai berat dan kerasnya hidupmu. Tapi aku tahu bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk kita.
Tetap semangat... Harus semangat, harus kuat, yakin bisa!!
Peluk hangat dariku disini untukmu.. :)

Jumat, 14 November 2014

Hai, Kain Kanvas yang Mulai Usang

Kau adalah sepenggal nada disisa imajiku..
Kau menggoreskan segurat cela dikanvas milikku..
Setitik noda hitam pekat yang merubah semua..
Seonggok cerita masa lalu yang lekas sirna..


Beginikah hidup?
Saat hati mulai merasa nyaman, saat itu dia pulang?
Sungguh tak adil
Dia biarkan aku kembali merana tersesat

Kau lukiskan birunya laut
Kau semaikan anggunnya langit berbintang
Tapi mengapa hanya sekejap ku rengguk manisnya?
Kini hanya tersisa ngilu
Kini hanya tersisa rindu

Sungguh malang
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang

-setelah lama, muncul kembali ke permukaan-

Rabu, 10 Juli 2013

Catatan 96 Jam


Sebuah kisah dari perjalananku melepas penat, “96 jam...”

Hari pertama...

Dimulai ketika pada siang itu kami berkumpul di Pastoran Paroki X. Hampir sekitar 2 jam aku menunggu ga jelas, namun kejenuhan itu tak begitu berarti karena justru dapat kenalan baru berwajah lama. Kami sharing masa pendidikan di SMA, seru juga.. Hehhe.. Singkatnya, setelah waktu yang panjang, akhirnya perjalanan dimulai. Tak disangka tak diduga, kami naik truk bak pasir yang...demi apapun berasa jadi iwak peyek, padet banget!! Hehm.... Hampir dua jam kami berdiri di truk itu, tapi aku sangat menikmati perjalanan, sejuknya udara disepanjang perjalanan begitu menusuk kalbu, maklum di kota cuma asap mengepul yang sering aku jumpai... Kesan pertama canggung, segelintir orang saja yang wajahnya tak asing bagiku, sisanya? Hem.....

Setelah bercengir ria didalam bak truk selama perjalanan dan ketika turun dari truk, kaki berasa kayak lagi kena parkinson, bew... Gemeteran pemirsa. Hadew... Sampai dilokasi, tenda sudah berdiri, yah ga tahu ternyata ada tangan – tangan malaikat yang sudah berbaik hati mendirikan tenda bagi kami para peserta. Hehm, ini nih awal perang dinginnya. Mungkin kami dibilang sok – sokan, mungkin dibilang ga mau membaur, entah lah, yang jelas awal yang buruk menjadi alur cerita yang buruk pula selama 4 hari kemudian.

Pembukaan dimulai, dan yah. Aku sukses dibuat galau karena disore bolong ketika matahari masih terik dan ketika ga ada hujan ataupun mendung, ada PELANGI.. Lagi dan lagi, aku galau. Bukan cuma sekali, tapi 3 kali. Pertanda apa coba? Ga mikir tanda tanda sih waktu itu, cuma yah sedih juga, Pelangi dalam arti nyata nongol tuh sampai 3 kali, eh Pelangi yang satu lagi entah dimana. Ngenes banget kan....

Dan semakin larut, dinginnnya suasana semakin berasa. Hati dingin, wajah dingin, manusianya pun juga berasa dingin.. Dan semakin merasa asing.. Salah siapa coba? Salahku pastinya, harusnya aku menurunkan harga yang tidak seberapa ini, harusnya lebih pandai membawa diri sehingga ga jadi dingin, iya tho??

Acara berakhir dan kesan kedua tetap saja, biasa!! Bagaimana ga biasa, ragaku disana tapi jiwa dan hatiku melayang jauh kesana... Hahha...

Malam pertama sukses membuatku insomnia, benar benar insomnia. Ga bisa tidur sama sekali, baru bisa merem sekitar 2 jam, eh ayam jantan versi kepala hitam udah berkokok aja. Pengin teriak, “Woi, bisa diem ga??” Tapi yah, aku cuma orang baru, baru nongol lebih tepatnya, jaga mulut jadinya. Wakaka...

Hari Kedua....

Semua biasa saja, paginya yah gitu gitu aja, mandi dan ritual biasa lainnya. Kemudian kami piket. Hehm.. Ga menyangka kalau harus berdingin ria sampai hari kedua. Sumpah!! Paling ga suka perang dingin, mending lempar lemparan batu es dah, daripada perang dingin. Dan yah, ternyata hari kedua itu ada cerita, cerita yang seumur hidupku baru kali itulah aku berada pada ambang batas antara percaya dan tidak percaya. Sesuatu yang lain, yang tidak nampak namun menjadi nyata. Dan siang itu menjadi awal dari kegalauan dan keamburadulan acara.

Malamnya aku sukses tidur nyenyak tapi, sampai ga tahu jam berapa tiba tiba udah siang bolong aja. Bodoh amat ah, aku capek. Yah, meskipun orang bakal bilang kalau ga solid banget, memanfaatkan kondisi lemah kawan untuk mendapatkan kenikmatan, tapi ya aku masih manusia biasa lho... :D (*nyengir)

Hari Ketiga........ (Malam terakhir, malam paling..............)

Keadaan sedikit membaik, meskipun sukses banget bikin aku nambah ga nyaman sama situasi yang ada. Berasa bersalah banget, bangun udah telat, eh pas balik ke lokasi, kayak digusur pemirsa, mirip banget dah, semua isi barang yang ada ditenda acakadut ga keruan diluar tenda, dan ngenesnya itu tenda tenda lain cuma nonton pemirsa, tontonan gratis..tis....tiss......

Parahnya, perang dingin semakin menjadi gila. Dan yah, bisa apa aku, cuma bisa nikmati alur yang ada, walau hati kecil ga pengin juga mendinginkan kawan sendiri. Tapi, semua berargumen dengan egonya masing-masing, ya sudah aku cuma bisa diem tok pemirsa..

Situasinya justru tidak membaik ternyata, malah semakin runyam pemirsa. Puncaknya itu pada malam terakhir, alih-alih bisa nikmati ‘api unggun’ super romantis, eh..malah situasinya bener-bener darurat. Dan berakhir dengan konflik, konflik batin, konflik fisik, semua berkonflik berdasarkan argumennya masing-masing. Dan ya, aku masih ga percaya berakhir menjadi semakin kacau, masih terasa seperti mimpi.

Dan singkat cerita, kami hampir menjadi Pemenang.

Dari hampir 96 jam perjalananku, aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Pertama dan mungkin terakhir kali aku ikut kegiatan itu, tapi cerita yang aku dapat bener-bener luar biasa. Awalnya aku cuma berharap ketemu “Pelangi”ku, tapi ternyata rancanganku bukanlah rancangan-Mu. Tuhan menunjukkan sesuatu yang lebih berharga dari sekedar bertemu dengannya. Mungkin aku belum atau mungkin tidak mungkin sama sekali dapat bertemu kembali dengan “Pelangi”ku, tapi Tuhan memperlihatkan Pelangi nyata dihadapanku, Pelangi yang benar-benar indah, yang sukses buat aku galau dan berangan “Seandainya kamu ada disini, ini persis seperti yang pernah kamu khayalkan dulu, bersama kita melihat Pelangi berdua. Hahha :D (*nyengir lagi) ” Tapi ya, tidak demikian adanya, khayal itu sebatas khayal semata sampai entah kapan waktunya. Nyatanya aku hanya seorang diri melihat Pelangi itu, menahan getirnya sakit (*mewek...)

Hal lain yang aku dapat, bahwa aku masih belum mampu, belum mampu menjadi pribadi yang Tuhan inginkan. Masih perlu banyak belajar, kepekaan dan kepedulianku masih jauh dari kata baik, nol bahkan. Masih harus terus belajar, “imanku masih belum”... Semoga 96 jam kemarin menjadi pengalaman sekaligus pelajaran berharga bagiku, untuk banyak hal, khususnya untuk “nerimo” bahwa rancangan-Nya adalah indah adanya.

Semoga nantinya catatanku lebih berharga, lebih menunjukkan tujuan hidupku..

Aku masih terus mencari, mencari dan mencari akan diapakan hidupku, dan yah.... Aku masih sering galau... :D

(Banyak hal dalam kejadian 96 jam kemarin yang belum mampu aku utarakan dan aku ilustrasikan dengan gamblang, tapi ya...cukup menjadi sebuah cerita berharga yang tersimpan apik dihati dan diotakku yang akan kuturun temurunkan  dimasa tua nanti..) Benar sih nasihat terakhir yang paling melekat dijidat kemarin, “Kegiatan ini bisa menjadi ajang kalian saling mengenal, saling dekat dalam arti positif, tapi tidak menutup kemungkinan jika justru membuat tali perselisihan dan permusuhan... Well, orang muda, tentukan sendiri bagaimana baiknya hidup Anda!!! Hehhe... *sok2.an

Senin, 03 Juni 2013

Pelangiku, Hujanku!!

Seperti malam yang merindukan bulan ketika pagi menjelang dan seperti siang yang merindukan mentari ketika sore tiba. Hey! Seperti itu pula aku, aku Hujan. Hujan yang merindukan Pelanginya. Musim terus saja berlalu, menyisakan sedikit goresan luka. Oh mengapa? Pelangi tak kunjung menampakkan keelokannya?? Padahal Hujan senantiasa mencucurkan hawa segarnya, menebarkan bau khas tanah basah. Hujan sore ini. Hujan badai.... Tapi dimana Pelangi? Dimana? Tak sadarkah Pelangiku hingga dia tak kunjung menampakkan harmoninya?

Sudah hampir 4 bulan, cukup lama bukan? Seperti sudah tak memiliki memori masa dulu, nampaknya semua sia sia adanya.. Padahal, hari ini begitu bermakna, hari ini? Iya, benar sekali, hari pertama dimana Pelangi dan Hujan berada pada satu kondisi, bersama untuk pertama kalinya. Hari tepat dimana sebuah asa muncul menelusup dinding, ruang dan rongga yang namanya hati. Hujan pun memiliki hati bukan? Tentu saja, mana mungkin dia tidak. Jelas jelas setiap waktu memberi tanpa pernah menuntut balas. Bagaimana dengan Pelangi? Adakah Pelangi ingat hari ini? Mungkin iya namun kurasa tidak. Tentu, Pelangi sibuk, sibuk membelai para Bidadari di Nirwana sana. Tunggu, Bidadari? Benarkah Bidadari itu ada? Ataukah itu hanyalah fantasi Pelangi saja? Kurasa, aku tidak bisa merasakannya...

Hey!! Sudah lama sekali ya ternyata, menurutku begitu. Bagaimana menurutmu Pelangi? Ah, kamu tidak menjawab. Yah, tentu saja tidak. Bahkan mendengar ocehanku ini saja juga tidak.

Hujan sore ini. Hujan badai. Tidakkah kamu mendengar jerit piluku wahai Pelangi? Bahkan ranting dan dedaunan saja begitu takut ketika badaiku menghempas mereka, namun kamu mendengar saja tidak?? Oh.. Apa yang salah Pelangiku? Apa?

Tidak ada yang salah.. Semua baik, semua indah. Mungkin Hujanku belum mampu menggerakkan langkahmu untuk menghampiriku lagi. Aku tahu. Kurasa Bidadari itu begitu mengungkungmu bukan?? Setidaknya, jika kamu memang berada di Nirwana, turunlah ke Bumi bersamaku, sebentar saja. Akan kutunjukkan padamu, Pelangiku, Bumi jauh lebih indah dibanding Nirwana beserta Bidadarimu itu. Tapi? Aku tidak bisa, aku tak memaksamu Pelangiku. Aku hanya mampu menunggu hari hari selanjutnya. Ketika tiba masaku untuk turun ke Bumi dan memberi berkat, iya masa yang indah bagiku. Namun, aku masih berharap kamu, Pelangiku, mengiringi Hujanku... Karena yang aku tahu, waktu itu indah, sama indahnya dengan Pelangi Sehabis Hujan. Begitu padu bukan? Ya, tentu saja, padu seperti Aku dan Kamu....

Sebuah narasi untuk yang pertama namun mungkin bukan yang terakhir.....

Rabu, 05 Desember 2012

Catatan kecil diawal Desember untuk yang dirindukan..


Sebuah catatan kecil untuk Matahari, Bintang, dan Pelangi  yang mengusik kehidupanku...


Hey... Kamu, iya kamu, kamu yang duduk dipojok itu lho. Malah toleh – toleh, iya kamu, itu. kamu si Bulan. Hehm... Aku bingung harus memulai darimana. Aku adalah Bulan, beberapa tahun lalu, tepatnya dua tahun ini, aku hidup dalam selimut harapan yang entah kapan harapan itu akan menjadi kenyataan. Tapi itu tidak begitu penting. Aku, Bulan yang ketika malam tiba baru terlihat pancaran sinarnya. Haha.. Serendah diri itukah aku? Hingga ketika malam tiba saja aku mampu untuk memancarkan keindahanku.. Lalu, apa yang terjadi aku disiang hari? Hehm... Aku menjadi rapuh, menjadi silau karena sinar dari Sang Matahari.

Matahari, iya kamu Matahari. Kamu itu begitu mengusikku, kenapa setiap waktu selalu saja ingin tahu tentang kilauku, tentang mimpi – mimpi, cita – cita, dan harapanku? Aku ingin sekali berkata dihadapanmu, ‘Berhenti menggangguku!! Aku bahagia dengan kilauku saat ini, jangan sok menjadi super hero, aku tidak butuh!!!’ Tetapi seperti harapanku yang entah kapan akan menjadi nyata, sepertinya itu tidak mungkin, kita tidak pernah sejalan dan setujuan. Ketika siang, aku terlalu takut untuk memandang silaumu dan ketika malam kamu terlalu angkuh untuk mengagumi kilauku. Hah, mungkin sepanjang waktu kamu akan selalu mengusik kilauku. Merepotkan!!

Bintang, iya kamu Bintang. Kamu tahu apa kesalahan terbesarmu? Tepat sekali, kamu terlalu menyibukkan diri mengagumi keindahan kilauku dan melupakan cara untuk menjadi sejalan dan setujuan denganku. Kamu tidak ada bedanya dengan Matahari. Kamu itu begitu dekat denganku, setiap dan sepanjang malam kita lalui bersama, tapi apa? Tidak pernah sedetik pun kamu mau untuk mengatakan sesuatu tentangku. Aku hanya ingin keberanian darimu, mengatakan bahwa kilauku benar – benar memukaumu, tapi bukan dibelakangku melainkan dihadapanku. Tidakkah kamu tahu, aku menunggu saat itu? Tapi, tidak ada kejelasan darimu. Hehm.... Menjengkelkan!!

Pelangi, iya kamu Pelangi. Kamu itu seperti gunung es bagiku. Begitu membuatku berada dalam situasi yang amat dingin, namun mencair ketika pertahanan benteng goyah. Kehadiranmu yang muncul tiba – tiba selaras dengan kepergianmu yang tiba – tiba pula. Aku terlalu bingung memahami dirimu Pelangi. Mungkin didalam kilauku hanya ada keindahan warna yang tidak lelah engkau pancarkan, namun aku takut jika suatu saat aku tidak dapat melihat lagi warna – warna itu dengan hatiku. Ketahuilah, aku tidak selamanya bisa berlayar tanpa arah dan tujuan seperti ini. Aku butuh kepastian darimu. Engkau tahu, kita berada dalam dimensi yang amat sangat berbeda, bukan disiang hari, bukan pula dimalam hari perjumpaan itu. Kamu pun hanya nampak dikejauhan, yang tak dapat aku lukiskan betapa pun jauh jaraknya.

Matahari, Bintang dan Pelangi..

Aku terlalu lelah berada diantara lingkaran bersama kalian. Sampai kapan ini harus aku alami? Tidak bolehkah aku bahagia bersama yang aku nanti. Atau inilah jalan yang harus aku tempuh, mungkin inilah jalanku untuk memancarkan kilauku??? Inikah jalanku untuk mencari apa yang belum aku dapat, dan menemukan apa yang telah aku cari?

Siapakah yang akan menuntunku dimasa nanti? Engkaukah Matahari? Engkaukah Bintang? Atau engkaukah Pelangi? Aku tidak tahu, kalian juga tidak tahu, hanya yang tidak terlihat yang tahu.

Ini hanya perkara waktu, kalian tahu waktu??? Perputaran roda. Hehm....

Jangan sesalkan ketika suatu waktu nanti, aku memancarkan kilau itu bersama Meteor. Kalian tahu Meteor? Sesuatu yang dahsyat... Sesuatu yang tidak terduga namun sangat mengagumkan, mungkin hampir sama denganmu Pelangi. Tapi tidak, kalian berbeda. Meteor tidak akan meninggalkan Bulannya dalam kebimbangan, Meteor akan menuntun Bulan bersama – sama untuk memancarkan kilaunya. Tidak sepertimu Pelangi. Engkau terlalu sibuk menghias hidupmu dengan warna – warni tanpa pernah melihat dan memahami apa yang aku mau.

Inilah hidup. Inilah hukum alam. Inilah proses, mungkin bertemu dan mengenal Matahari, Bintang, dan Pelangi adalah sebuah proses, lalu jika aku bertemu Meteor, itu sebuah proses ataukah sebuah hasil akhir???? Hehm.... Tidak ada yang tahu, tidak juga aku, tidak juga kalian, hanya yang tidak terlihat yang tahu....


Penuh kerinduan untukmu......

Jumat, 30 November 2012

..Di Penghujung Bulan November..

Ini, November 2012.. Tepatnya 30 November. Ini adalah malam kesekian ribu kali setelah kita terpisah dalam nuansa yang berbeda, dua tahun yang lalu ketika tragedi klasik membumihanguskan mimpi - mimpi dan harapanku... Meskipun telah lama berlalu, tetapi untuk mengumpulkan kembali hati yang remuk redam itu ternyata cukup sulit. Aku bahkan kewalahan ketika harus menahan rindu, yang sebenarnya tidak wajar ini. Kadang, semua terasa berbeda ketika kita sama - sama mampu melepas ego kita, tembok yang menghalangi mata kita untuk sama - sama melihat kekurangan dan keletihan jiwa kita. Namun, yang terjadi sering berbeda. Ketika kita sangat mengagungkan ego kita, saat itulah kita sama - sama menyakiti dan mengkhianati rasa kita.

Selamat malam Pelangiku... :)


Seringkali, aku melihat kelemahan kita menjadi kelebihan kita... Kurang komunikasi, kurang pengertian, kurang peka, kurang tanggung jawab, kurang ajar.. :) Lalu, semua menjadi lebih ketika kita sama - sama menambah kekurangan itu. Menambah ketidakwajaran itu sehingga benar - benar menjadi limit. 

Pelangiku...
Ini sudah terlalu larut, bukan waktu sesaat dan bukan waktu yang tanpa arti. Sampai kapan? Aku tidak tahu, dan yang aku tahu kamu tidak mau tahu.. Mengapa? Egois? Naif? Kenapa? Jaim? 

Pelangiku..
Seandainya kamu mau tahu, sedikit saja untuk mau tahu. Mungkin semua tidak akan menjadi begitu rumit. Kenyataannya kita sama - sama tidak mau mengalah.. 

Pelangiku...

Kejujuranmu yang ingin aku tahu, dan apa kamu juga ingin tahu kejujuranku? Atau? Posisimu terlalu nyaman sehingga kamu tidak peduli dan tidak mau tahu lagi tentang ketidakwajaran ini?

Pelangiku..
Mungkin aku tidak tahu, tapi aku sedikit tahu, aku meyakini apa yang ada dipikiranku, dan aku meyakini kita mampu melewati ketidakwajaran ini. Aku yakin, kita mampu melewati limit ini dan menjadikan mimpi kita dimasa lalu menjadi sebuah keindahan, seperti kamu pelangiku..

Pelangiku..
Semoga ketika aku terbangun esok hari, aku mendapati sebuah pengharapan indah itu...
Yang selalu merindukanmu..
Pelangiku...

Senin, 24 September 2012

Kenanglah, mantan kekasihku

Kenanglah aku..
Kenanglah aku dan semua tentang aku..
Baik burukku, indah ataupun kelabu..
Kenanglah aku..

Aku tidak memintamu untuk mengingat semua tentang aku..
Aku hanya berharap kamu mengenangku..

Jauh sudah aku melangkah..
Setiap tapak dan jejak yang terlewati,
tidak ada yang menghapus hadirmu dalam ruang hati ini..
Setiap hal kecil,
membawa aku dalam adegan masa lalu..

Aku telah cukup lelah menanti..
Rasa rindu ini pun kian lama kian memudar..
Tapi, mengenangmu adalah salah satu hal terindah yang aku miliki...

Untukmu,
'Pelangiku'

Sabtu, 22 September 2012

Romansa Biru


Ku titipkan sebentuk Hati kecilku kepada seseorang yang jauh disana. Aku berharap dia  mampu menjaga Hati itu. Menjadi pelita ketika Hati itu merasa gelap, memeluk Hati itu ketika ia kedinginan, menjadi penunjuk jalan ketika Hati itu tersesat, menjadi penasihat ketika Hati itu gelisah, dan menjadi sandaran ketika Hati itu lelah. Sebentuk Hati kecil yang rapuh, yang seringkali merasa tidak berdaya ketika harus dihadapkan pada sebuah pilihan. Aku tak cukup kuat untuk menjaga Hati itu sendirian, namun seseorang itu pun juga tak mampu bertahan untuk bersamaku menjaga Hati itu. Sebuah tragedi klasik yang malah justru menghancurkan Hati itu menjadi berkeping – keping. Sebuah kenyataan yang menyakitkan, kejujuran yang menyesakkan, menggoyahkan kepercayaan dan menodai arti sebuah kesetiaan.       

  Kini Hati itu berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Hati itu merasa galau. Hati itu merasa merindu. Hati itu kesepian. Hati itu masih berharap. Berharap pada sesuatu yang tidak bisa direncana. Berharap pada seseorang yang telah meninggalkan Hati itu dan menjauh pergi. Seseorang yang sampai saat ini tidak mengerti dan tidak mau mengerti tentang Hati itu. Aku menyebut seseorang itu sebagai ‘Pelangi’. Pelangi itu tidak pernah terlihat ketika Hati itu sangat merindukan keindahannya. Pelangi itu hanya dapat dinikmati sesaat saja. Pelangi itu terlalu mustahil untuk dapat dimiliki kembali oleh Hati itu. Pelangiku, Pelangi yang terlalu jauh untukku sentuh.    

   Suatu kali, Hati itu berpikir untuk bicara tentang sebuah keadaan. Keadaan seperti benteng yang membuat Hati itu begitu takut untuk bicara. Benteng yang memberi jarak dan membuat Pelangi dan Hati itu terpisah sekian lama. Tetapi, ketika Hati itu ingin mulai bicara, Logika pun tak ingin kalah dan menyusup bak duri dalam daging yang turut membentengi Hati itu. “Apa maumu Hati kecil? Apakah kamu ingin mengubah keadaan ini menjadi seperti yang kamu inginkan? Jangan sembrono. Itu bukan kuasamu, melainkan kuasa – Nya yang bekerja. Dia yang jauh disana lebih tahu apa yang kamu butuhkan bukan apa yang kamu inginkan. Mulailah berpikir dewasa, jangan egois dan menuruti nafsumu. Dia rencanakan hidupmu jauh lebih indah dari apa yang kamu bayangkan. Dia tahu waktu yang tepat, Dia sudah berjanji, karena itu bersabarlah untuk menanti waktu itu!! Yakinlah, akan tiba saatnya.”      

   Hati itu hanya bisa terdiam ketika Logika berbicara. Hati itu menangis. Menangis karena begitu bodoh ingin mendahului kuasa – Nya. “Sabar...” hal yang dapat dilakukan oleh Hati itu.    

      Detik berlalu, menit berlalu, jam, hari, bulan dan tahun juga berlalu. Bahkan begitu cepat semua berlalu. Hati itu mulai kembali mengumpulkan kepingan – kepingan yang telah hancur. Hati itu kini telah bangkit. Hati itu telah cukup kuat. Hati itu pun masih terus mencoba bersabar. Hati itu mencoba meyakini kuasa yang dijanjikan. Semua tidak semudah apa yang diinginkan. Hati itu terus berproses, satu per satu keindahan lain pun datang menghampiri. Bulan, Bintang, dan bahkan Matahari yang mencoba mengusik keindahan Pelangi dalam Hati itu, tidak mampu menggoyahkan keyakinan Hati itu. Hati itu tetap bertahan. Tidak peduli dengan kilauan Bintang yang gemerlap, tidak peduli dengan cahaya Bulan yang penuh keteduhan, dan tidak juga peduli pada Matahari yang tiada lelah memberi.

         Hati itu tetap yakin pada sebuah janji. Janji yang mungkin telah terlupakan oleh Pelangi. Hati itu akan terus menunggu. Menunggu sampai Pelangi itu datang. Menjemput Hati itu bersama mimpi mereka. Pelangiku, mungkin Hati itu tidak pernah tahu kapan kuasa – Nya akan bekerja. Hati itu hanya ingin menyampaikan sebuah kalimat sederhana, “Pelangi berpengharapan yang kamu janjikan dulu, masihkah dapat aku nikmati keindahannya? Ataukah semua telah berubah, dan pengharapan itu tak lagi ada??”     

   Sore tadi, Hati itu kembali menangis. Tiba – tiba kesesakan menghimpit, nafasnya tersendat. Hati itu terlihat begitu kecewa, Hati itu kembali terluka. Hati itu merasa kehilangan, lagi. Pelangi itu tidak kunjung datang. Sore tadi adalah hujan yang ke – 999, hujan yang membuat Hati itu berharap dapat melihat  Pelangi yang dinantinya. Namun, Pelangi itu entah berada dimana. Hati itu tersudut, terpojok dalam dimensi ruang yang membawanya melamun ke tragedi klasik itu. Andaikan semua yang berlalu dapat aku kembalikan ke keadaan normal lagi, bukan yang seperti ini, terhalang tembok yang membentengi kita. Hati itu kembali tersadar, Hati itu tertawa. Sebuah situasi yang menjijikkan, yang membuat Hati itu tertawa dalam sebuah topeng yang penuh kepalsuan.       

Hati itu bangun dari lamunannya. Hati itu telah lelah, Hati itu mencoba melupakan harapannya, Pelangiku. Hati itu ingin mewujudkan mimpi mereka, meskipun kini Hati itu sendirian. Hati itu yakin, suatu saat jika Dia yang mempunyai kuasa mengatakan ‘iya’ maka semua  akan menjadi sempurna. Hati itu sadar bahwa untuk mencapai kesempurnaan itu tidaklah mudah. Hati itu juga tidak mampu membohongi aku. Ia  tidak pernah benar- benar melupakan sang Pelangi. Hati itu justru menyimpan harapan bersama sang Pelangiku dalam relung yang terdalam. Hati itu mungkin perlahan menghilang, Hati itu mungkin juga mulai menjauh. Tetapi, Pelangiku harus tahu bahwa Hati itu hanya tidak ingin melihat Pelangiku gagal, Hati itu ingin melihat Pelangi berbahagia meski dari kejauhan. Hati itu memberikan kebebasan yang Pelangi inginkan. Hati itu selalu berdoa yang terbaik untuk sang Pelangi, meski perih menyelimuti Hati itu, tapi Hati itu tetap mencoba bertahan.    

    Dalam pekatnya malam, Hati itu berjalan tertatih, menyusuri tiap jalan yang pernah Hati itu lewati bersama sang Pelangi. Seperti memutar kembali ingatan dimasa lalu, satu per satu adegan bak drama pertunjukan terlintas dibenaknya. Terduduk lemas disebuah kursi kayu dekat taman, Hati itu melihat setangkai mawar putih yang teronggok diantara sampah dedaunan. Kala itu musim kemarau, dedaunan seolah tak punya daya berguguran memenuhi seisi taman itu. Hati itu mengambil mawar putih itu dan memandang penuh tanya. Siapa yang membuangnya? Tidak ada harganya kah mawar ini hingga pemiliknya membuangnya begitu saja? Hati itu menyimpan mawar putih itu pada sebuah kotak kecil. Kotak itu berisi tentang harapan, cita – cita, dan mimpi Hati itu. Hati itu mulai merasa lelah dan terlelap bersama nikmatnya keindahan senja.        

   Tiba – tiba hembusan angin membangunkan Hati itu. Sebuah keyakinan baru kembali menohoknya. Hati itu ingin pasrah, untuk semua yang Hati itu alami. Biarlah semua tersimpan dengan manis dalam relungku, aku tak ingin mengusikmu lagi Pelangiku. Aku bahagia, aku bahagia.. sekali lagi aku bahagia. Aku tidak bohong, aku benar – benar bahagia. Aku yakin, tulang rusuk dan pemiliknya tidak akan pernah tertukar. Jika kamu memang tulang rusukku, Pelangiku, pasti saatnya akan tiba. Bersabarlah. Kini biarkan aku berlalu darimu, ucapkan ‘Selamat jalan untukku dan untukmu.’ 


Rabu, 23 November 2011

Semoga Tercapai Segala yang diinginkan

Hari ini, tepat bertambah 1 tahun usiamu. Mungkin aku ga bisa mengucapkan secara langsung, tapi lewat tulisanku ini, dari hati yang terdalam aku ucapakan 'Selamat Ulang Tahun... Semoga tercapai apa yang diinginkan, sukses segalanya. Amin.'
Tahukah kamu? Mungkin kamu ga akan pernah baca tulisan ini, tapi jujur, aku kehilangan kamu, benar-benar kehilangan. Kenapa kamu menghilang tanpa kabar????
Kemanakah kamu? Apakah kamu benar-benar telah melupakanku? Apakah memang tiada lagi harapan untuk kembali memulai semua dari nol??

Kamis, 10 November 2011

Tentang Dia

Tidak ada yang dapat aku ucap..
Ketika dia di hadapanku..
Semua terasa begitu hangat
Membuatku hanya dapat terdiam,,diam,,dan diam

Aku mungkin telah kehilangan raganya..
Namun di hatiku tetap hanya ada satu cinta
Cinta yang utuh hanya untuknya

Selalu dan akan selalu untuknya
Selamanya....

Selasa, 20 September 2011

Penyesalan

Mungkin tidak akan ada lagi kata yang dapat aku ucap...
Aku terlalu lemah untuk mengakui segalanya...
Aku tidak sanggup jika harus mengatakan kejujuran hati...

Jadi jangan pernah bertanya aku baik - baik saja..
Karena aku tidak baik, sangat buruk...